Keberanian Salamah bin Akwa r.a
PRLM - Salamah bin Akwa r.a. dikenal sebagai anak yang memiliki keterampilan memanah dan kemampuan berlari yang sangat cepat. Kecepatan larinya sangat luar biasa sehingga tidak mudah menandinginya.
Pada suatu hari, di suatu tempat bernama Ghabah, Salamah bin Akwa r.a. melihat para perampok pimpinan Abdurrahman Fazari yang berhasil mencuri unta. Di Ghabah, yang jaraknya tidak begitu jauh dari Kota Madinah, Rasulullah saw. biasa mengembalakan unta-untanya.
Saat Salamah melihat peristiwa perampokan tersebut, dia segera lari ke arah bukit. Lalu dia berteriak sekuat tenaga agar perhatian perampok tertuju kepadanya. Kemudian, Salamah mempersiapkan busur-busur panahnya dan mengejar para perampok tersebut. Setelah mendekati para perampok, Salamah kemudian melancarkan serangan dengan melesatkan beberapa anak panah. Para perampok tersebut dihujani anak panah sehingga perampok itu mengira bahwa yang mengejar mereka adalah satu pasukan besar. Beberapa kuda mereka terjatuh terkena anak panah Salamah.
Salamah terus mengejar para perampok tersebut yang lari tunggang langgang. Barang-barang rampokan mereka pun tertinggal di belakang, berupa unta, 30 buah lembing, dan 30 helai kain. Namun, lama-kelamaan, para perampok tersebut menyadari bahwa ternyata yang mengejar mereka adalah seorang anak kecil. Tentu saja para perampok tersebut marah dan berbalik menyerang Salamah. Terutama setelah mereka mendapat bantuan dari perampok lain pimpinan Uyainah bin Hishain. Kawanan perampok itu terus mengejar Salamah sampai ke sebuah bukit
Ketika para perampok itu semakin mendekat, Salamah tidak gentar dan berteriak, “Demi Allah yang menguasai jiwa Muhammad saw. jika kalian ingin menangkapku, pasti kalian tidak akan berhasil, tetapi jika aku ingin menangkap salah seorang dari kalian, pasti dia tidak akan lolos dari tanganku.”
Belum sempat perampok itu menyerang Salamah, bantuan dari kaum muslimin segera datang. Akhirnya, para perampok itu bisa ditaklukkan oleh kaum muslimin. Keberanian Salamah bin Akwa r.a. harus menjadi teladan bagi generasi muda untuk berani menegakkan kebenaran. (Ismail Kusmayadi, dikutip dari kitab Fadhail A’mal/A-88)***